Jumat, 11 Desember 2015

FF Korean NC | Romamce || High School Love Story

igh School Love Story Chapter 1 Main Cast : Choi Minho Im Yoona Suport Cast : Kim Seok Jin Kwon Yuri Yoo Ji Ae Park Chanyeol Genre : Romance, PG15, Sad, School Life Rating : NC17+ WARNING!!! Typo everywhere. Bagi yang gak suka sama ff nya jangan di bash ya. Gausah dibaca kalo gak suka, dari pada ujung ujungnya malah komen yang enggak2 '-' Mian Ceritanya gak jelas, entah kenapa gua terdorong buat bikin cerita ini, tengah malelm pula '-' tolong hargain kerja keras mimin ya, jangan lupa tinggalin jejak, jangan silent readders hehe.. HAPPY READING! ^^ ------------------ Author POV "Pitpitpiwwitt.." siulan burung terdengar sangat merdu di pagi hari. Menambah kehangatan suasana kota Seoul. Matahari bersinar cerah seolah olah sedang memamerkan senyumannya. Terpampang jelas seorang gadis cantik nan anggun itu yang terlihat sedang tertidur pulas. Senyumannya terukir indah di bibir manisnya itu. Im Yoona, gadis cantik berumur 18 tahun.. parasnya yang cantik mmbuat semua orang terpesona. Lemah lembut dan berbudi perkerti baik. Dia terlahir dari keluarga yang terpandang. Namun, kepribadiannya sangat sederhana. Hasil prestasinya pun tak kalah menarik. Ia selalu menjadi peringkat pertama di sekolahnya. Ia sangat berbakat dalam hal menyanyi. Hal itu membuatnya populer di sekolah. Banyak para lelaki yang menyukainya. Namun sampai sekarang, ia belum pernah berpacaran layaknya anak anak yang lainnya. Ia tetap fokus pada pelajaran. Begitulah kriteria seorang Im Yoona. "Kriiing... Kringgg..." Jam bekker kamar Yoona pun berdering. Menandakan ia harus segera bersiap siap sekolah. "Hoammm... pagi yang indah..." Yeoja itupun bangun dari tidurnya  yang nyenyak. Ia segera bangkit dan merapihkan ranjangnya yang sedikit berantakan itu. Setelah selesai, ia menyambar handuk pink mudanya dan menuju kamar mandi. Melucuti gaun merah muda nya yang cukup longgar sehingga memperlihatkan kedua belahan dadanya. Gadis itu beranjak menyalakan keran bathtubb dengan air hangat. Setelah cukup terisi, ia merebahkan tubuhnya di bathtubb, merilekskan pikirannya sejenak. Membiarkan pori porinya terkena air hangat yang membuatnya rileks. Sangat nyaman, namun ia ingat, sekarang bukan waktunya untuk bersantai. Ia beranjak dari bathtubb mewahnya menuju shower yang tertutupi bilik kaca dengan gordyn plastik bercorak bungan bunga. Yah, kamar mandi Yoona bisa dibilang MEWAH, bahkan SANGAT MEWAH. Kamar mandinya sangatlah luas. Berisikan washtafel dengan kaca yang sangat besar dengan nuansa Merah muda. Peralatan mandinya tersusun rapih di sana. Bathtubb yang sangat besar, memuat 6-8 orang didalamnya serta lilin berbau aroma teraphy yang dinyalakan 24jam dan berbagai peralatan spa dan manicure disana. Serta sebuah bilik kaca yang cukup besar yang di dalamnya terdapat 4 pancuran dan gordyn plastik bermotif bunga. Sangat luas dan megah. Ia membasuh seluruh tubuhnya, dimulai dari kepala hingga kaki. Mengaplikasikan Shampoo beraroma tulip dan mawar ke rambutnya dan menggosok tubuhnya dengan spons lembut yang telah di beri sabun beraroma bunga lili. Membasuh wajahnya menghunakan facial foam yang merk nya jangan diragukan lagi. Menyikat giginya rapih dan menenggak gelas kecil pembersih mulut, diaplikasikan ke seluruh permukaan mulutnya, lalu dibuang. Selesai sudah mandinya. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu disambar dengan hairdryernya. Mengambil Bodylotion beraroma bunga dan mengusapnya ke tubuhnya. Ia menuju lemari pakaian dan mengambil seragam khas Seoul International High School bermotif kotak kotak itu. Segera ia kenakan seragamnya dan melilitkan dasi di kerah seragamnya. Ia sedikit memoleskan bedak dan lipglos tipis agar tidak terlihat pucat. Ia mengenakan bando ikat pita yang sedang trend sekarang. Sempurna! Ia terlihat seperti Malaikat yang turun ke bumi. Ia menuruni tangga rumahnya yang terlihat sangat Luxurious itu dan menuju ke meja makan. Di situ terdapat Eomma nya yang sedang membuatkan sereal untuk sarapannya. Yoona POV "Anyeong Uri Eomma..." Sapaku mencium pipi Eommaku yang sedang membuatkan sarapan untukku. "Nado annyeong uri princess yang cantik ini." Balas Eomma sambil tersenyum. "Nah, serealnya sudah siap. Cepatlah makan, kau bisa telat." ucap Eomma menyodorkan semangkuk Sereal kesukaanku. "Gomawwo Eomma..." Aku mengambil sendok dan langsung melahap serealku dengan cepat. Corn Flakes adalah sereal kesukaanku. Dengan cepat, aku sudah mengbabiskan sarapanku. "Aku berangkat dulu ne Eomma... Annyeong!" Aku berpamitan dan mencium tangan Eommaku. "Tidak ingin di antar??" Tanya Eomma setengah berteriak karena aku sudah berada di rak sepatu yang berjarak agak jauh dari meja makan. "Tak usah Eomma, aku bisa sendiri.. lagi pula, aku kan sudah besar... aku pergi dulu ne? Annyeong..." Aku membuka pintu rumah dan menuju ke garasi. Segera ku keluarkan sepeda merah muda ku dari garasi. Ne, memang terlihat sangat mewah. Aku sebenarnya menolak sepeda ini saat Eomma dan Appa memberikannya padaku saat aku berulang tahun ke 15. Tapi ya, mau gimana lagi... itu hadiah pemberian orang tuaku... aku harus menghargainya. Ku kayuh sepeda ku pelan. Menikmati angin sepoy sepoy yang menyapu wajahku dan membuat rambut ku yang terurai berkibaran. Sangat nyaman... tiba tiba, sesuatu mengejutkanku. DUS...!!!! Ya! Mengapa di saat seperti ini, ban sepedaku meletus? Omo... ottokheo?? Apa aku harus berjalan kaki menuju sekolah? Ah itu sangat melelahkan! aku akan naik bus saja! Kebetulan halte bus tak jauh dari sini. Segera ku ambil telfon genggamku dan menelfon Hoongki Ahjussi untuk membawa pulang sepeda ku. "Annyeong Ahjussi, bisa aku minta tolong? Ban sepedaku bocor saat ingin pergi ke sekolah. Bisa kah kau mengambilnya? Di jalan xxxxx Tolong jangan beri tahu Eomma ne? Gomawwo..." Aku memutuskan sambungan telfon dan menunggu Hoongki Ahjussi. Tak berapa lama, Hoongki Ahjussi dan para Body guard datang menjemput dengan mobil Limosin putih. Omo! Mengambil sepeda saja pakai membawa mobil segala... "Mian, tanpa di sengaja Nyonya  mendengar percakapan telfon tadi dan menyuruh kami mengantarkan Noona." Hoongky Ahjussi dan para body guard itu membungkukan badannya. Ottokheo??? Sangat tidak nyaman jika memakai mobil Limosim Eomma kesekolah. Bisa bisa aku jadi perbincangan hot disekolah nanti. Dan akan ada bertubi tubi pertanyaan dari anak anak. "Ahh... Gwaenchanayo Hoongki Ahjussi... kau bisa mengantarkanku kesekolah dengan syarat, aku menaiki Bus dan Kau bisa mengikutiku dari belakang. Bukankah itu aman??? Jebal..." Aku memohon pada Hoongky Ahjussi yang kebingungan kepada syaratku ini. "Andwae... kami hanya di perintahkan oleh Nyonya untuk mengantarkan Noona. Silahkan masuk." Kata Hoongky Ahjussi membukakan pintu mobil dengan ramah. "Andwae! Aku tidak akan berangkat ke sekolah naik mobil Eomma." Aku agak mengeraskan suaraku agar di perbolehkan oleh Hoongky Ahjussi. Hoongky Ahjussi semakin kebingungan menghadapiku. "Mian... tapi ini perintah dari Nyonya besar. Nyonya bilang jika kau tidak mau, kami harus menyeretmu secara paksa." Hoongky Ahjussi memberikan kode pada ke4 bodyguard Eomma. Ottokhe?? Tidak ada yang bisa ku lakukan selain,,, KABUR!!! Aku lari sekencang tenaga untuk menuju halte bus. Para Bodyguard menyusulku dengan cepat. Ottokheo?? Tiba tiba.. BRUK!!! Omo! Aku menabrak seorang! Ahhh sial! "Mian... aku... aku tak sengaja!" Aku membantu Namja itu berdiri. Ahhh ada ada saja sih, di saat seperti ini. Ahhh sial... bodyguard itu mendapatkanku! "Ya! Nyonya... ini perintah dari Nyonya besar. Jika kau melanggar, kami bisa di pecat.. Ayo masuk!" kedua  bodyguard itu memegangi kedua tanganku. "ANDWAE! ANDWAE! AKU TIDAK INGIN KE SEKOLAH NAIK MOBIL ITU! JEBAL !!!" Aku meronta ronta agar bisa di lepaskan. Tiba tiba.. BUGGH! BUGGH! Terdengar suara tendangan dari belakang. Benar saja, Namja yang ku tabrak tadi membuat para bodyguard itu tersungkur. "Kajja Ppali!" Dia menarik tanganku agar berlari. Hufft... para bodyguard itu sibuk membantu bodyguard yang terkena tendangan Namja ini. Karena kelelahan, aku pun berhenti dan bersembunyi di sebuah gang kecil. "Hosh... hoshh... dasar! Mengapa harus di paksa sih?! Eommaaaa! Anak mu ini kan sudah besar!" Keluhku kesal dan hendak menendang kaleng kosong. "Ya! Jangan di tendang. Mereka akan lewat! Nanti kalau ketahuan bagaimana huh? Shhh mereka sedang lewat!" Namja disebelahku ini pun memperketat persembunyiannya membuat badanku sangat terhimpit. Setelah para bodyguard dan Hoongky ahjussi melesat sangat jauh, akupun lega. "Hufft... Ya! Berhenti menghimpitku! Sempit tahu! Minggir!" Aku segera berdiri dan meraphikan seragamku yang agak kotor karena terkena benda benda berdebu. "Ya! Bukannya berterimakasih karena sudah ku tolong, malah memarahiku! Dasar tak tau terimakasih!" Namja di sebelahku pun ikut berdiri dan merapihkan seragamnya. "Ne ne... Khamsamida!!!! Puas huh??" Kataku dengan sedikit penekanan di kalimat 'Khamsamida' "Memangnya itu siapa huh? Mengejar mu dan memaksamu memasuki mobil. Jaman sekarang, pelecehan merajalela." Katanya sambil merapihkan rambutnya yang agak berantakan. "Kau kira mereka siapa huh??" Tanyaku balik bertanya. "Pereman. Tapi tunggu, mereka tadi membawa mobil mewah, mana mungkin pereman mampu membeli mobil semahal itu. Dan tadi kau di panggil 'Nyonya' berarti mereka adalah..." Namja itu menggantungkan kalimatnya. "Nde... mereka bodyguard ku." Kataku malas dan mengambil tas ku yang ku gantung di pagar. "Jika mereka bodyguard mu, mengapa kau tak mau diantar dan malah kabur huh? Aneh sekali." Ia bertanya lagi padaku. "Aisshh kau ini kepo sekali huh! Aku tak mau ke sekolah memakai mobil itu! Apalagi mobil itu memang agak mahal dan sangat langka. Aku tak suka pamer atau menjadi pusat perhatian. Arra? Btw.. seragammu sama denganku.. kau murid baru Seoul International High School?" Tanyaku sambil mmperhatikan seragamnya. "Nde.. murid transfer dari Amerika. Choi Minho Imnida... namamu?" Dia balik bertanya padaku. "Eh? Oh.. Im Yoona imnida... wait, kau dari Amerika, mengapa nama dan marga mu seperti marga orang korea?" Tanyaku lagi. "Nde... aku memang lahir di Seoul... saat berumur 4 tahun aku pindah ke Amerika. Karena Eomma ku berasal dari Amerika dan Appa ku Korea. Dan kebetulan sekarang bisnis perusahaan Appa dipindahkan di Seoul. Jadi kami kembali lagi ke Seoul, tanah kelahiranku" Jelasnya sambil berjalan keluar gang sempit itu. "Berhubung Sekolah kita sama, bagaimama jika berangkat bersama? Yahhh mungkin saja Bodyguard mu itu menemukanmu ... hanya untuk berjaga jaga..." tawarnya sambil merapihkan kembali dasinya yang agak miring. Yoona POV End Minho POV "Baiklah... Kajja Ppali! 15 menit lagi bel eoh!" Katanya menghadap keluar gang. Dengan spontan aku menarik tangannya dan berlari sekencang kencangnya. "Ya! Jangan berlari ! Barusan kita kan habis berlari! Kau mau aku pingsan dijalanan? Kau yang bertanggung jawab eo?" Katanya menghentikan larinya. Ia terlihat ngos-ngosan dan keringat mengucur di seluruh tubuhnya. "Ya! Kau tahu kan ini hari pertama ku bersekolah? Jika aku telat, mau di taruh mana mukaku ini huh? ----" kata kataku terpotong oleh Yeoja ini. "Ya! Geure! Kau boleh berlari, asalkan.... kau menggendongku! Kaki ku mulai keram karena sedari tadi berlari. Jeballll...." katanya memohon sambil memasang tampang memelas. Ya, benar saja, aku jadi kasihan melihatnya. Yahhh mau bagaimana lagi eoh? "Geure... jangan merengek seperti anak kecil! Kau jelek tahu jika seperti itu! Cepat naik..." aku berjongkok dan menpuk nepuk pundakku. "Gomawwo ... " Katanya tersenyum dan menaiki punggungku. "Mengapa tidak formal eoh? Bukankah kita baru kenalan?" Tanyaku yang bingung karena dia tidak memakai bahasa formal. "Bukankah kita satu sekolah? Itu berarti tidak butuh bahasa formal... Ppali... katanya kau mau lari eo? Cepat lari... nanti kita terlambat!" *Skip @School Ya! Mengapa kini aku menjadi pusat perhatian?? Kini aku dan Yeoja itu telah di kepung menjadi lingkaran oleh murid murid itu. Tunggu.. yeoja?? Ya! Yeoja itu kan masih ku gendong! Pantas kami menjadi pusat perhatian! "Ya! Turunkan aku. Kau tak malu eoh menjadi pusat perhatian?? Ya ppali turunkan aku!" Dengan spontan aku melepaskan tanganku dan membuat yeoja itu tersungkur jatuh. "Awwhhhhh Appo ! Eommmaaaaaaa!!! Michin Baboya! Nappeun Namja!!!!!" IA berteriak dan mengusap kepalanya yang terbentur aspal. "Salah kau sendiri... kau yang menyuruhku gendong... dan menyuruhku menurunkanmu! Kau yang babbo!" Aku merapihkan seragamku yang kusut. "Gwaenchana?? Ya! Baboya! Berani beraninya membuat temanku terjatuh! Neppeun Namja!" Teman2 nya pun ikut mengomel! Sebenarnya aku yang bodoh atau dia eoh? Molla! Minho POV END Yoona POV Dasar Namja Babo! Awww kurasa kepalaku sudah benjol 3 cm. "Gwaenchana Yoona-ya? Perlu aku bawa ke UKS???" Tanya Jiae, sahabatku yang terlalu keanak anakkan karena selalu membawa permen Loli kemana mana dan selalu mengeluarkan suara anak bocahnya itu. "Aniya... Gwaenchanayo..." Aku berusaha tersenyum kepada sahabat sahabatku walau sebenarnya sangat perih. "Ya! Nuguseyo? Berani berani beraninya kau melukai Uri-Yoona!" Tiba tiba Chanyeol mencengkram kerah baju Minho. "Ya! Park Chanyeol! Jangan bertengkar karena masalah sepele... lagipula aku baik baik saja kok. Sudahlah.. Yuri, Jiae, tolong bantu aku berdiri." Aku menjulurkan tanganku pada Yuri dan Jiae. Tapi mengapa malah Chanyeol? "Gwaenchana? Mau ku antar ke UKS? Bagian Mana yang sakit?" Chanyeol mengusap usap kepalaku lembut. "Gwaenchana Chanyeol-ya... hanya cedera ringan... Gomawwo sudah menghawatirkanku. Kajja Yuri, Jiae." Aku segera pergi meninggalkan kerumunan orang disusul oleh kedua sahabatku. Author Pov   'Cih, siapa sih dia? Mengapa banyak sekali yang khawatir dengannya? Padahal hanya cedera ringan. Ditambah lagi Namja aneh ini yang bersikap sangat posesif.' Keluh Minho dalam hati. Sementara itu, masih di gerbang sekolah, lama kelamaan kerumunan itu bubar. Saat Minho hendak meninggalkan gerbang, Tangannya di cengkram dengan kuat oleh Chanyeol. "Beraninya kau menyentuh Uri Yoona! Mengapa kau menggendongnya eoh?" Chanyeol menatap Minho tajam tajam. "Dia yang memintaku menggendongnya karena kakinya keram. Wae? Lagipula, kau ini siapanya huh?" Minho balik menatap Chanyeol tajam. "Cih! apa katamu? Siapanya? Aku ini Calon NamjaChingunya Eoh! Aku ini Namja paling populer di sekolah. Sedangkan Uri-Yoona Yeoja terpopuler disekolah. Kau lihat saja ne.." Chanyeol mendorong Minho kasar dan berlalu pergi. @Class "Annyeong anak anak... hari ini kita kedatangan Murid Transfer dari Amerika. Silahkan perkenalkan dirimu.." Park Seongsanim mempersilahkan Minho untuk memperkenalkan diri. "Annyeonghaseyo... Choi Minho Imnida... saya murid Transfer dari New York. Senang bertemu dengan kalian. Mohon kerjasamanya." Minho memperkenalkan dirinya. Membungkukkan badannya 45 derajat. "Baik, ada yang ingin bertanya?" Park seongsamim memberi sesi pertanyaan pada murid muridnya. "Nae... bukankah dia dari amerika? Mengapa bahasa koreanya sangt lancar dan marganya pun marga korea" Tanya Krystal yang dikenal dengan kecentilannya itu. "Nde... saya lahir di seoul dan pindah ke amerika sejak umur 4tahun Eommaku asal Amerika sedangkan Appa Korea. Di Amerika, aku sering berkomunikasi dengan keluarga di seoul. Jadi aku masih bisa berbahasa korea. Khamsamida~" Minho membungkukan badannya 45 derajat. "Aku ingin bertanya juga!" Ucap jiae dengan suara khas bayinya itu. Park seongsanim mempersilahkan Jiae mengajukan pertanyaannya pada Murid barunya. "Ehhm.. Minho-ya, apa kau sudah mempunyai Yeoja Chingu?" Tanyanya dengan mengedipkan matanya berulang kali. Seketika kelas menjadi ramai dengan sorakan dan suara tertawa para murid. Park Seongsanim hanya menggelengkan kepalanya melihat muridnya yang ganjen itu. "Sudah cukup. Baiklah, Kau boleh duduk di samping Im Yoona." Park Seongsanim mempersilahkan Minho duduk. 'Aigoo... dekat Yeoja Gila itu Eoh? Huh menyebalkan.' Kata Minho dalam hati. 'Sebangku dengan Namja Babo itu? Ohh god... mimpi apa aku semalam?' Komentar Yoona dalam hati. "Aku tak mengizinkanmu duduk di sini!" Bisik Yoona pelan agar tidak terdengar oleh Seongsanim. "Tapi aku tak membutuhkan izinmu. Lagi pula ini meja sekolah kan? lupakan saja kejadian tadi pagi. Minggir.." Minho segera duduk dan mengeluarkan buku yang di perlukan. "Namja Babo!" Yoona mendengus pelan. "Apa kau bilang?" Tanya Minho yang agak mendengar perkataan Yoona. "Ani.." Yoona langsung membuka buku paket yang di perintahkan. @istirahat Yoona POV "Ahjumma, aku pesan Bento dan Gongchu Tea 3 Porsi ne... Berapa semuanya?" Aku menyodorkan beberapa uang dan menunggu pesanan. Setelah pesanan di buat, aku menuju meja dimana teman temanki sedang menunggu. "Berapa totalnya eoh?" Tanya Jiae yang mengambil uang di sakunya. "Tak perlu, hari ini aku yang teraktir. Kebetulan Eomma memberiku jajan lebih." Aku mengambil sumpit ku dan menjepit Roll Nuget ku. "Bukankah setiap hari kau mendapat uang jajan lebih? Appa mu kan pemegang saham terbesar ANA Entertaiment." Suara Yuri yang keras terdengar sangat melengking. "Shhht Kwon Yuri! Jangan keras keras eoh. Nanti yang lain akan tahu!" Cegah Jiae menutup mulut Yuri. Ya benar saja, aku menjadi pusat perhatian sekarang. Ada apa sih? Padahal suara Yuri tidak mampu berteriak di kantin sebesar ini. Ada apa sebenarny eo? Ahh Molla.. Aku memasukan Roll Nugetku ke dalam mulut yang sedari tadi kujepit namun belum sempat kumakan. "Ehhmm... Yoona-ya... aku ingin bilang sesuatu padamu." Tiba tiba Chanyeol memegang tangnku. Omo... apa yang dia lakukan? Dan dia memegang setangkai bunga mawar? "Be My Girlfriend?" Dia menyerahkan Bunga itu padaku. "Ma.. maksudmu? Maaf aku tak mengerti.. ahhh kau sedang latihan drama eoh? Baiklah tak apa... tapi jika kau ingin latihan drama, di ruang Teater lebih baik dari pada di kantin Chanyeol-ssi." Aku melepaskan genggaman Chanyeol. Seketika ruangan ini di penuhi tawa oleh seluruh murid. Mereka kenapa sih? "Ya! Apa yang kalian tertawakan? Ini cuma latihan drama kok... iyakan Yeolie?" Aku menjadi sebal karena ulah murid murid ini. "Ani... aku serius. Aku menyukaimu sejak lama. Entah mengapa hatiku terasa gelisah karena belum memberitahu perasaanku yang sebenarnya. Dan mungkin, sekaranglah waktu yang tepat bagiku. AKU MENYUKAIMU IM YOONA-SSI" mwo?? Apa yang ia katakan barusan? Dia bercandakan? "Eumm... Enggg, Mian Chanyeol-ssi. Tapi lebih baik jika kita berteman kan? Bukankah menyenangkan? Setahuku, berteman lebih mengasyikan dari pada pacaran. Kalau seandainya kita pacaran, dan suatu saat nanti kita sudah tidak sanggup menjalani hubungan kita, bahkan untuk sekedar menyapa saja tidak kita lakukan jika hal itu terjadi. Tapi kalau berteman, kau akan selalu mejadi teman ku Yeollie... Aku tidak ingin menyakiti hatimu dan juga memaksa diriku sendiri. Geunde... lebih baik kita berteman Ne? Mian... ahh okay, bagaimana jika hari ini aku yang teraktir?" Aku bisa merasakan jika ditolak itu rasanya bagaimana. Tapi yaa mau bagaimana lagi. Aku tak mau memaksakan diriku sendiri. Dan aku juga tidak mau membuat Chanyeol sakit hati nantinya "Yoona-ya... kau,," Chanyeol terlihat sangat pucat dan lemas. Apa kata kataku terlalu kasar? Grebb... Mwo? Chanyeol memelukku? Tak apalah,, mungkin ini bisa mengobati rasa sakitnya. Aku menepuk nepuk punggungnya. Yah kali saja dengan ini, ia bisa tenang. "Mian Chanyeolie... aku tak ingin memaksakan... jika di paksakan, kau nanti akan merasakan sakit yang lebih dari ini. Gwaenchana?" Aku melepaskan pelukannya. Wajahnya sangat pucat. Dan benar saja, dahinya hangat. Dia sakit? "Kajja, ku antar ke UKS.. kau tampak pucat dan badanmu panas!" Aku mebopong tubuh Chanyeol yang lumayan berat, karena sebagai manapun ia seorang pria sedangkan aku wanita yang berat badannya tidak sebanding dengannya. Ia terlihat sangat pucat. Bunga mawar yang ia bawa pun perlahan terjatuh. Sepertinya dia benar benar sakit sekarang. Aku harus cepat membawanya ke UKS, kalau tidak dia bisa tambah parah. @UKS "Yoona..  Im Yoona.. mengapa kau jahat sekali padaku? Apa salahku? Mengapa kau menolakku? Yoona... Im Yoona... Yoona-ya! Jawab aku! Yoona!!" Entah mengapa Chanyeol sedari tadi meracau tak karuan memanggil namaku berulang ulang. Mian Yeollie... aku tak ingin menyakitimu.. Badannya makin panas saja. Aku mencari cari obat peredam panas dan meminumkannya pada Chanyeol. Namun tanganku ditahan oleh Chanyeol. "Yoona... Im Yoona... aku tak butuh obat.. yang kubutuhkan hanyalah Kau, Kau Im Yoona.. Kumohon.." Dia meracau lagi.. namun matanya terbuka dan menatap mataku pekat pekat. "Ne, aku tahu Yeollie... tapi kau minum obat dulu. Badanmu panas sekali." Saat hendak membuka bungkus obatnya, tiba tiba... CHU... Aku merasakan sesuatu material yang lembut, basah dan tak bertulang menempel di bibirku. Material lembut basah itu menautkannya dengan bibirku. Ya, Tak salah lagi, Chanyeol menciumku. Baru saja aku ingin melepaskan tautan bibir kami, Ia sudah melumat bibirku duluan.. melumatnya pelan sambil sesekali menyesapi bibir plumku. menghisapnya dan menciptakan decakan decakan kecil. Aku tak tau harus berbuat apa. Ini first kissku! Aku tak begitu mengerti. Ia menggigit bibir bawahku yang berhasil membuatku meringis dan membuka mulut. Aku tak tahu bahwa ia akan memasukan lidahnya kedalam mulutku. Posisinya sekarang sudah duduk. Lidah kami berperang di dalam mulutku. Entah dari mana aku berhasil mengimbangi ciumannya. Oh ini sungguh memabukkanku. Aku terbuai oleh permainannya. Sangat nikmat. Namun permainannya lama kelamaan menjadi kasar. Aku kewalahan menghadapinya. Nafasku sesak seakan tidak dapat mendapatkan oksigen. Tangannya tak tinggal diam, ia memasukan tangannya kedalam seragamku. Aku ingin menghentikannya namun tak bisa. Aku memukul dadanya, tetap saja tak bisa. Ia menggerayangi tubuhku. Perutku yang rata diusapnya. Sungguh terasa seperti sengatan listrik jutaan watt. Karena sudah tak tahan, aku meremas pundak Chanyeol. Chanyeol mencari cari pengait braku. Dan ia dapat melepasnya. Ia segera memeras payudaraku kasar dan membuatku mendesah tak karuan. Sakit.. tapi lama kelamaan menjadi Nikmat. Ia memilin niple pink ku dan memenkan nekannnya. Ohh tubuhku menggelinjang hebat. Ini sungguh nikmat. Dann ouhhh sangat nikmat. Otak ku menyuruhku berhenti namun tubuhku tak bisa diajak kompromi. Ciumannya turun ke leher jenjangku. Mengecup dan menghisap sambil sesekali menggigitnya. Menciptakan tanda ungu tua kemerahan yang tercipta disana. Ohh sungguh nikmat. Aku meracau dan mendesah di sela ciuman kami. Aku mendesah hebat ketika chanyeol mengulum cuping telingaku. Nafas hangatnya terasa di pori pori leherku membuatku menggelinjang hebat. "Hhh.. mmhhh... yeollie... hajimaaahhh.. hhh ughhhh ahhh.. yeollie..  ougghh ahhh ohhh yeahhh " Aku mendesah dan meracau tak jelas di sela sela ciuman panas kami. Aku merasa bagian tubuhku berkedut hebat. Seperti ingin buang air kecil. Baru saja cairan itu ingin keluar, Tiba tiba, PRANG! Suatu benda terdengar jatuh. Aku dan Yeollie menghentikan ciuman kami dan menoleh ke sumber arah. Omo! Minho, Yuri, Jiae, dan Park Seongsanim! Mati aku... "Kau tahu kan ini di sekolah? Mengapa kalian berciuman dan kau Chanyeol! Apa yang kau lakukan? Tanganmu..." Park Seongsanim menggantungkan kata katanya. Seketika wajahku memanas. Kurasa sekarang sudah semerah tomat. Aku sangat malu. Adegan panas kami disaksika oleh keempat orang itu. "Mi.. mian seongsanim... tadi hanya,, hanya ketidak sengajaan.. dan kalian.. kalian menontonnya dari awal eoh?" Aku melototkan mataku tajam ke arah Jiae dan Yuri. "N.. nde.. mian Yoona... tapi, jika benda itu tak jatuh, kita tak akan menghentikan kegiatanmu kok... kami hanya tak sengaja menonton dann empphhh--" mulut Jiae di bekap oleh Yuri. "Anii.. semua itu salah... saat mengetahui Chanyeol sakit, aku memanggilkan Park Seongsanim kesini untuk memastikan keadaan Chanyeol. Iyakan Jiae?" Yuri menyenggol lengan Jiae. Jiae mengangguk cepat. "Ya! Kau ini temanku bukan eo? Mengapa kau tak menghentikannya eoh? Dan Park Seongsanim... aku minta maaf sebesar besarnya. khalgeyo..." Aku berteriak dan tak sengaja menjatuhkan air mataku. Aku berlari kencang sekencang kencangnya. Entah kemana arahku sekarang. Ahh ya, aku baru ingat tadi pengait braku dilepas oleh Chanyeol dan.. omo.. bajuku terangkat sampai di bawah dadaku. Chanyeolll! Kau benar benar! Untung saja di sini sepi. Aku langsung menuju toilet dan memasangkan pengait braku dan membetulkan seragamku. Setelah semua rapi, aku keluar dari kamar mandi. Tiba tiba Minho menggandeng tanganku. Entah dia membawaku kemana. Setelah ia berhenti aku baru sadar bahwa ia membawa ku ke atap sekolah. Dia menyodorkan sekaleng soda padaku. "Gomawwo Minho-ya..." tak berkata banyak, aku langsung menenggak minumanku begitu juga Minho. Seketika juga minumanku dan Minho habis. Kami melemparkan kaleng soda ke tong sampah. Krang!! Krang!! Yak! Lemparanku dan Minho tepat sasaran. Tiba tiba saja aku tertawa lepas. Senang sekali rasanya. Tapi masih ada rasa yang tidak mengenakkan menghantui diriku. Ya, rasanya sangat sakit. Mengapa Chanyeol tega melakukannya? Ini kali pertamanya aku melakukan hal seperti itu dengan pria. Dia sungguh kelewatan. Tak terasa aku menitihkan air mataku lagi. Semakin lama semakin deras. Sungai kecil di pipiku mengalir sangat deras. Isak tangis mendominasi ruangan ini. Aku menangis terisak. Tiba tiba saja .. GREB! Minho POV GREB! Aku memeluknya. Biarkan saja dia menangis sesukanya di pundakku. Entah mengapa jantungku berdetak 5x lebih cepat. Waeyo? Aisshhh sialan. Makin lama, tangisnya makin keras dan kencang. Aku merasa iba melihatnya. Aku melepaskan pelukanku dan menghapus air matanya. "Uljima... kau tahu, kalau kau menangis, kau jelek tahu! Ya walaupun tak menangispun kau tetap saja jelek." Aku berusaha membuatnya terhibur. "Ya! Jika aku jelek, mengapa seluruh Namja di sekolah ini menyukaiku eoh? Kau meyebalkan..." Dia tertawa sambil memukul lenganku pelan. "Nah, tersenyum kan lebih cantik..." Aku tersenyum padanya dan dia membalas senyumku. @pulang sekolah Yoona POV Aku membereskan barang barangku lalu keluar kelas. Jiae dan Yuri sudah menungguku diluar. "Wae? Belum pulang?" Tanyaku pada Yuri dan Jiae. Entah mengapa wajahnya sangat murung. "Waeyo? Kenapa sedih? Ceritakan sajaa~~~~" paksaku pada Yuri dan Jiae "Uriyoona... kami ingin meminta maaf soal yang tadi siang. Kami benar benar menyesal... aku tak bermaksud membiarkan kalian berdua.. tapi saat kami ingin menghentikannya, Park Seongsanim menahan kami. Minhae Yoona-ya..." Jelas Yuri dan Jiae dengan rasa bersalah. "Kau masih mengungkitnya eoh? Sudahlah... lagipula aku sudah melupakannya. Maaf karena sudah membentak kalian. Aku hanya tak kuat. Love youuu all!" Kami bertiga berpelukan. Ne, aku sangat menyayangi mereka. Aku sudah menganggap mereka saudaraku. Sejak Taman Kanak Kanak, kami selalu bersama bersekolah. Kebetulan orangtua kami bersahabat sejak kecil. "Euhmmm... Yoona-ya, kami harus pulang dulu... kau ingin bareng?" Tawar Jiae padaku. "Tak usah.. aku ingin naik bus." Aku tersenyum meyakinkan. "Arraseo. Kalau begitu, kami duluan ne? Annyeong Yoona-ya.." Yuri dan Jiae berpamitan dan aku segera menuju gerbang sekolah. Sesampainya di halte bus, aku melihat Minho sedang menunggu bus disana. "Sedang apa?" Tanyaku pada Minho dan duduk di sampingnya. "Menunggu pesawat terbang.. yaa menunggu bus lah.." Aisshhh dia jago sekali membuat lawakan! "Ya! Kau bisa saja..." Aku tertawa lepas. "Rumahmu dimana?" Tanyanya menghentikan tawaku. "Dia kompleks Gangnam blok F... wae?" Aku bertanya balik. "Rumahku juga di kompleks Gangnam. Tapi aku Blok G. Bagaimana jika pulang bersama?" Tawarnya lagi. Aku mengangguk diikuti senyumanku. Tak lama kemudian, bus pun datang. Aku dan Minho segera masuk ke bus. Yahh tidak terlalu ramai dan rata rata murid Seoul International High School. Aku mendapat bangku paling belakang. 15 menit kemudian, aku hampir sampai di Halte Komplek Gangnam. Aku dan Minho beranjak dari duduk dan memencet tombol tanda berhenti. Bus pun berhenti di halte gangnam. Aku dan Minho turun dari Bus dan menuju blok F. Sesampainya di rumahku, aku membuka kunci pagar pelan pelan takut ketahuan oleh Eomma dan Hoongky Ahjussi "Wae? Ohh kau ketahuan bodyguard itu ne?" Tanyanya pelan. Aku mengangguk mengiyakan. "Euhhmm... aku masuk dulu ne?" Aku pamit pada Minho. "Ne.. aku juga ingin pulang. Annyeong..." Minho melambaikan tangannya. "Nado Annyeong ..." entah kenapa aku tersenyum senyum sendiri sejak tadi. Aku pelan pelan masuk pintu rumah mengendap endap agar tidak ketahuan Eomma. Cklek Lampu dihidupkan dan Eomma berdiri di depanku sambil melipat tangannya. "Mengapa kau melanggar perintah Eomma? Bagaimana jika kau kenapa kenapa di Bus itu eoh! Kau ini susah sekali di atur. Kau mau apa eoh?" Eomma memarahiku begitu kencang sampai Jin Oppa keluar kamar. "Ya! Ada apa teriak teriak? Berisik tahu! Lagi pula Yoona kan sudah besar. Dia bisa berangkat sendiri Eomma. Jangan menganggap Yoona sebagai anak kecil berumur 5 tahun. Ia juga ingin hidup bebas." Binggo! Jin Oppa membelaku. Ayolah Eomma... jangan keras kepala. Eomma hanya menghela napas dalam. Ia menggelengkn kepalanya. "Tetap saja aku khawatir. Kau itu anak gadisku satu satunya. Jika terjadi yang tidak tidak padamu bagaimana? Seperti penculikan, perampokan, bahkan pelecehan seksual. Eomma tida rela jika kau mengalaminya. Apa kau tida takut kehilangan adikmu satu satunya eoh?" Jawab Eomma lagi. "Eomma, Yoona sudah bisa jaga diri. Dia sudah besar. Umurnya pun sudah bukan 5tahun lagi. Seluruh anak remaja pasti ingin merasakan kebebasan. Biarlah ia menikmati masa remaja nya tanpa ada penekanan. Karena masa masa itu tidak dapat diulang kembali." Tutur Jin Oppa menuruni tangga dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Aku mengangguk dan menghampiri Jin Oppa yang sedang menikmati tayangan televisi. Aku memeluknya. Dia memang Oppa yang sangat baik. "Gomawwo Oppa.. Sharange.." Aku mencubit pipinya gemas. "Ya! Dasar adik kurang ajar. Sakit tauu!" Teriaknya melempar bantal kearaku yang sudah lari menaiki tangga. Tentu saja lemparannya meleset. Haha rasakan itu Oppa. @Night Ahh kenapa aku tidak bisa tidur eoh? Sial, Namja itu terbayang terus di otak ku. Kuakui dia sangat tampan. Dia juga baik dan selalu bisa membuatku tersenyum. Ahhh mengapa aku memikirkan Namja itu eoh? Tring.. (bunyi sms) Suara handphone ku berbunyi. Siapa yang meng-sms ku malam malam eoh? Saat aku buka, nomor tak dikenal 'Mau berangkat bersama? Kutunggu di depan rumahmu pukul 6:30 ne. Jangan telat! Good night.. -Choi Minho' Omo! Dia tahu nomorku dari siapa eoh? Dia mengajakku berangkat bersama? Baiklaahh... aku harus cepat cepat tidur agar tidak kesiangan. @Morning "Annyeong Eomma... Jin Oppa..." Aku duduk di sebelah Jin Oppa dan memakan Sereal yang telah Eomma siapkan. "Diluar ada seorang Namja. Katanya ia menunggumu. Kau lelet sekali... Ppali, kasihan temanmu itu eoh!" Jin Oppa mngambil jatah sarapanku. "Makanlah.. aku harus buru buru." Kataku beranjak dan memakai sepatu. "Ehem... dia tampan juga lho.. dia siapamu?" Eomma menyahut lagi. "Ehh? Ohh.. engg.. hanya,, hanya teman kok! Hehe.." aku tersenyum simpul pada Eomma. "Annyeong .. aku berangkat dulu ne.." aku berkaca sebentar lalu keluar rumah. Benar saja, Minho sudah stay disitu dengan motor sport putihnya. "Lama menunggu? Mian... aku kesiangan hehe.." aku keluar dari pagar dan mengisyaratkan pada Hoongky ahjussi. "Gwaenchana. Pakai ini." Minho menyodorkan helm padaku. Aku segera memakainya dan naik ke motor sport putihnya. "Hari ini macet. Jika kita memakai bus, kita bisa telat! Waktu kita hanya 15menit." Katanya menjelaskan. Lalu motornya melaju dengan cepat. "Ya! Pelan pelan. Aku bisa jatuh tahu!" Dengan spontan aku memeluknya dari belakang karena takut jatuh. @School "Helm mu... Gomawwo..." Aku mnyodorkan Helmnya lalu turun dari motor sportnya. "Cheonmayo... Kajja ke kelas." Minho menggandeng tanganku. Entah kenapa aku tersenyum dan hatiku berkata 'jangan dilepas' aigoo.. aku ini kenapa eoh? Tiba tiba Chanyeol datang menghampiri kami. Dia menatap Minho tajam. "Yoona-ya, maafkan aku soal kemarin, aku benar benar tak sadar. Kau tahu kan aku sedang demam dan aku hanya--" Perkataannya cepat cepat ku potong. Aku tak mau mendengar kelanjutannya. "Ne Gwaenchana, aku sudah melupakannya,, Kajja .." Aku menarik tangan Minho agar menjauhi Chanyeol. "Ya! Lain kali jika Chanyeol menghampiriku, kau cepat cepat membawaku pergi. Aku sudah malas melihat wajahnya. Jebal.." Kali ini aku mengeluarkan Puppy Eyes ku yang sangat memelas. "Arra arra! Kau ke kelas duluan saja. Aku ingin ke loker sebentar." Kata Minho melepaskan genggamannya. "Aku ikut. Aku juga ingin mengambil buku dan alat alat. Kajja,," Aku berjalan duluan da Minho di belakangku. Sesampainya di loker, aku segera mengambil beberapa buku dan alat tulis. Tiba tiba, ada suara pukulan. Sepertinya perkelahian. BUGH! BUGH! BUGH! Omo! Chanyeol menyerang Minho? Wae? Punya urusan apa dia dengan Minho? "Ya! Yeollie! Hajima! Mengapa kau melakukan ini eoh? Kau punya masalah apa dengan Minho? Diakan tidak pernah melakukan apapun padamu. Aku kecewa padamu Yeollie. Kajja ku antar ke UKS." Aku membantu Minho berdiri dan membawanya ke UKS. "Gwaenchana? Sebenarnya, mengapa kalian berkelahi? Ahh sudahlah. Kajja ke UKS." Aku mengalungkan tangannya di pundakku. Bibirnya mengekuarkan darah, wajahnya memar memar. Seragamnya berantakan. Sungguh aku sangat prihatin dengan penampilannya. Ini semua salahku. Bukankah ini urusan aku dan Chanyeol? Mengpa Ia membawa Mimho kedalam masalah ini? Park Chanyeol! Dasar kau. TBC~~ Gimana nih ceritanya? Ini ff pertamaku yang aku post di Blogku. sebelumnya hanya ku post di facebook aja^^ mian ceritanya kurang bagis atau bagian Yadongnya kurang hot. Part 1 masih pemanasan dulu lah. Nanti Part 2 nya bakalan ada adegan yang dramastis banget dan tentunya diikuti dengan adegan panas. Shutt! Dibawahumir jangan baca yaa.. Emangnya Author diatas umur? Lahh Authornya aja masih sekolah wkwk.. Gak maksa ninggalin komen/likenya. Berharap reading nya happy dan terbawa ceeita aja. dimohon dukungannya. Yang mau kasih saran/keluhan komen aja yaa.. See you bebs :* Contack me on Instagram : @Lovelyz_inspirit Araaaaa's Stories.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar